Menyambangi Kampung Gitar Mancasan

Kampung Gitar Mancasan adalah sebuah desa yang dikenal karena keistimewaan warganya yang memilik kegiatan usaha utama yang menjadi kebanggan desa yaitu membuat kerajinan gitar. Terletak di Desa Mancasan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo nama Kampung Gitar Mancasan nyatanya sudah dikenal hingga ke luar negri, dibuktikan dengan adanya investor dari luar yang datang khusus untuk mencari gitar impiannya di desa ini.

Menyandang nama ‘Kampung Gitar’ Mancasan yang tercatat di hasil pencarian teratas situs raksasa google tidak membuat warganya hidup sejahtera begitu saja, dengan potensi yang besar, banyak hambatan yang ada dan dimiliki oleh para pengrajin disini, ditakutkan hambatan yang ada dapat membuat potensi besar yang ada menjadi tidak berkembang, bahkan terancam hilang. Inilah yang mendorong kami Youngsters Solo untuk bergabung bersama Kampung Gitar Mancasan untuk memajukan Indonesia, melalui kegiatan Social Creative Project yang dilaksanakan pada hari Minggu 8 Desember 2019.

Kegiatan Social Creative Project mengundang 50 pengrajin dari Kampung Gitar Mancasan dengan berbagai latar belakang peran dalam menjadi pengrajin untuk menyatukan pemikiran, memaparkan permasalahan, menemukan solusi dan menayamakan tujuan. Menghadirkan sosok inspiratif, Aditya Rahardani yang sudah berhasil dalam membangun bisnisnya dari nol dan menjemput kesuksesan di usia muda dengan omset mencapai Rp 200-300 juta setiap bulannya, di usia 30 tahun Aditya Rahardani yang menekuni bisnis pakaian wanita dengan memasarkannya secara online ini sudah memiliki asset yang bisa dikatakan sulit tercapai di usianya bahkan Aditya sendiri sudah terdaftar menjadi salah satu nasabah prioritas di Bank Mandiri.

Youngsters Solo ingin mengajak warga Kampung Gitar Mancasan untuk dapat mengembangkan dan mengenal mudahnya digitalisasi perdangan dan besarnya hasil yang bisa diperoleh dengan adanya digitalisasi perdagangan itu sendiri, melalui kehadiran Youngster Solo dan sosok inspiratif yang didatangkan dalam acara Sosial Creative Project, kami bersama kehadiran warga yang berperan sebagai pengrajin, pengepul, bahkan keturunan yang menjadi pihak yang hanya memasarkan saja ini, bersama-sama belajar bagaimana meningkatkan interest pembeli, menambah nilai jual produk, mencari solusi dari permasalahan yang ada seperti salah satunya ditemukan seorang pengrajin yang membuat gitar dari bahan mentah hingga berwujud gitar siap pakai yang tidak teredukasi tentang bagaimana memanage biaya produksi untuk memaksimalkan harga jual, bahkan disini beliau tidak mengetahui berapa biaya yang ia dihabiskan dalam pembuatan sebuah gitar tapi menjualnya dengan harga Rp 50.000/lusin dimana setelah gitar tersebut ada ditangan para pengepul satu gitar tersebut bisa dijual dengan harga Rp. 120.000 per itemnya kepada para pembeli.

Pada kesempatan ini  kami mengajak para pengrajin untuk menjadi aktor utama, menjadi pengrajin yang memproduksi dan bisa menjual sendiri produknya pada konsumen tanpa adanya peran pengepul yang dapat mengurangi pendapatan mereka. Kehadiran salah seorang pengepul dalam acara ini juga membuka mata para peserta tentang kebutuhan pasar dimana betapa pentingnya disertifikasi produk yang sangat menunjang nilai jual kedepannya, karena pada prakteknya para konsumen juga mengharapkan adanya pilihan jenis gitar yang ada sehingga membuat konsumen lebih mudah dalam menjatuhkan pilihan. 

Kehadiran Youngsters Solo melalui kegiatan Social Creative Project di desa Mancasan ini memiliki harapan agar keberadaan Kampung Gitar Mancasan kedepannya semakin memiliki nama diluar kawasannya, memiliki kesejahteraan bagi warganya sehingga dapat mendorong kelangsungan kegiatan pengrajin gitar yang dapat berlangsung turun temurun dan dapat menjadikan Kampung Gitar Mancasan menjadi desa yang juga dikenal sebagai desa wisata dan dapat menjadi destinasi utama para kolektor gitar, serta dapat memberikan arti tersendiri bagi kemajuan Indonesia, dalam mewujudkan SDM unggul Indonesia maju. 

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

More To Explore

Sustainable School oleh Youngsters Semarang

Mandiri Youngsters Semarang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Semarang, Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI), dan Yayasan Edunesia telah menyelenggarakan

Transformative Exchange

Transformative Exchange dibagi menjadi 2 agenda yang saling berkelanjutan. Acara pertama yaitu Social Transform Day, diadakan pada tanggal 24 November 2019 bertepatan dengan kegiatan Car